Senin, 01 Agustus 2011

Harry Potter and Togetherness of Love (part 1)

Reaksi: 
Disinilah aku berdiri.. Menatap banyak siswa baru yang hilir mudik kesana-kemari. Mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang sedang asik berbicara dengan orang tuanya, ada yang sedang merapikan seragam kebanggaan sekolah baruku, ada yang sedang sibuk berkenalan mencari teman baru agar tidak sendirian diasrama nanti. Tapi aku? Aku hanya berdiri, berdiri disamping kereta kokoh yang akan membawaku menuju sekolah baruku. Ya, disinilah aku. Aku sedang menginjakkan kaki di stasiun King's Cross. Aku sedang menunggu kedatangan kereta Hogwarts Ekpress.

Aku sibuk dengan pikiran ku sendiri. Saat ini usiaku telah menginjak 11 tahun dan aku sangat beruntung ketika memiliki kesempatan sekolah di Hogwarts. Sekolah yang diimpi-impikan banyak orang. Ayahku adalah seorang penyihir berdarah murni, sedangkan ibuku adalah seorang Muggle. Yah, bisa dibilang aku ini adalah titisan penyihir berdarah campuran. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara ayah dan ibuku "Sayang, ayo siap-siap. Itu keretanya sudah datang". Woooowww... Aku takjub. Itukah kereta yang akan membawaku ke sekolah sihir ternama itu? Aku segera menggendong tas ranselku dan segera menyalami kedua orangtua ku. Tak lupa aku memeluk mereka dan memberikan kecupan dikedua pipi-nya. Memang sangat berat untuk anak seusiaku (dan tentunya anak-anak lain yang baru masuk Hogwarts) untuk tinggal jauh dari orang tua selama 1tahun. Mungkin para orangtua pun merasakan hal yang sama. Cemas dengan anak-anaknya. Yah, itulah resiko yang harus berani kami ambil. Sebelum masuk kereta, ayah menggendongku dan berkata "Baik-baik disana ya, ayah memiliki seorang teman dekat dan anaknya juga bersekolah disana". Akupun bersemangat "Waaahh.. siapa nama teman ayah itu?". Ibu tertawa melihat semangatku, "nama teman ayahmu James Potter sayang. Ibu juga berteman baik dengan istri-nya, Lily Potter." Senyumku semakin mengembang "Lalu siapa nama anaknya?". Ayah menurunkan aku dari gendongannya seraya tersenyum "Nama anaknya Harry Potter, sayang". Oh, ternyata anaknya seorang laki-laki. Aku penasaran ingin bertemu dengan sosok yang bernama Harry Potter itu. Belum sempat aku melanjutkan pertanyaan, kereta tiba dihadapanku dan anak-anak calon siswa baru berebutan naik. Ayah dan Ibu segera mengantarkanku untuk naik kedalam gerbong kereta. Aku kembali memeluk mereka. Ibu berkata "Jangan nakal ya sayang" sambil tersenyum manis dan mengecup pipiku. Aku melambaikan tangan ke mereka dan segera naik ke kereta.



Di kereta aku mencari kursi kosong. Aku menemukan seorang anak lelaki yang sedang duduk sendirian. Kurasa ia cukup tampan dengan rambut pirangnya.
Ia tersenyum padaku. Aku sempat berpikir, apakah dia si Harry Potter yang tadi diceritakan ayah dan ibu?
"Hey, boleh duduk disini?" aku menyapanya. Ia kembali tersenyum. Dan sepertinya dia memang hobi tersenyum. Tak masalah bagiku karena senyumnya begitu manis. "Silahkan," ucapnya. Suaranya begitu lembut. Memberikan kedamaian tersendiri bagi siapapun yang mendengarkannya.
"Namamu siapa?" waahh dia menyapaku terlebih dahulu. Belum sempat aku menjawab tiba-tiba dia kembali berceloteh "Oh tunggu... aku tau namamu!" ucapnya tersenyum girang. Keyakinanku bahwa ia adalah Harry semakin kuat. Aku hanya tersenyum lalu bertanya "Darimana kau mengetahui namaku?"
Senyumnya semakin mengembang lebar dan matanya tertuju pada syal yang ku kenakan. "Maaf boleh aku meminjam syal mu?" aku bingung, tapi aku segera melepaskan syal yang ku kenakan dan menyerahkan kepadanya.
"Dari siniiii.." dia menunjuk salah satu sudut yang ada di syal itu. Disana memang terukir namaku, Dika Arianti Lestari. Nama itu adalah hasil sulaman ibuku. "Ini namamu kan?" dia bertanya penuh percaya diri. Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Dia senang karena tebakannya benar. Kemudian muncul dibenakku sebuah pertanyaan besar, apakah anak ini yang bernama Harry Potter? Segera kutanyakan kepadanya. "Hey, ehmmm.. kau sudah tau namaku. Lalu siapakah namamu?" Dan lagi-lagi ia tersenyum "Namaku Ronald. Ronald Weasley. Tapi kau dapat memanggilku hanya dengan panggilan Ron"
Aku sempat kecewa ketika mengetahui ia bukanlah Harry Potter yang diceritakan ayah dan ibu. Tapi yasudahlah, aku beruntung dapat mengenalnya karena ternyata ia adalah orang yang asik diajak berbicara. Setidaknya ini adalah awal yang menyenangkan untukku.

Sepanjang perjalanan kami bercerita banyak hal. Dari ceritanya, aku mengetahui bahwa aku seasrama dengannya. Ya, seleksi asrama memang berlangsung 1 bulan sebelum tahun ajaran baru dimulai. Saat itu topi seleksi menempatkanku di asrama Gryffindor. Begitupula dengan Ron. Aku juga mengetahui bahwa ia sangat takut dengan laba-laba. Saat itu tiba-tiba ada laba-laba yang bergelantungan dihadapannya. Ia langsung menjerit ketakutan. Ia meloncat diatas kursi dan memelukku. Raut wajahnya sudah tak beraturan. Benar-benar lucu melihat Ron saat itu. Orang-orang disekitar kami menatap heran. Sebagian ada yang marah karena tidurnya terganggu oleh teriakan Ron. Tapi aku melihat seorang anak lelaki yang tidak bereaksi apapun. Dia hanya diam mematung dan hanya melihat sekilas saat Ron menjerit. Kemudian dia kembali sibuk sendiri dengan kegiatannya. Dia tampan dengan rambut hitam dan kacamata bulatnya itu dan begitu berwibawa dengan raut wajahnya yang tegas. Tapi ia kelihatan sangat cuek. Aneh, anak laki-laki itu membuatku penasaran. Ron kembali menjerit ketakutan. Aku segera membuang laba-laba itu dan menenangkan Ron.
"Ron, tenanglah laba-laba itu sudah kubuang"
Ron masih memelukku ketakutan dan mengangkat kepalanya. Ia menatap sekelilingnya. Dan... "Huuuhh.. akhirnya. Terimakasih telah menyelamatkanku. Kau berani sekali". aku tertawa "Hahaha itu hanya laba-laba kecil, Ron". "Iya, tapi aku takut sekali. Aku selalu merinding ketakutan setiap kali melihat laba-laba". Aku hanya tertawa geli "Laba-labanya sudah hilang kan? Sekarang lepaskan pelukanmu. Aku sesak napas karena kau memelukku begitu kencang"
Ron segera sadar bahwa saat itu ia sedang memelukku dan ia segera melepaskan pelukannya "Oh, maafkan aku. Hari ini aku telah banyak menyusahkanmu"
Lagi-lagi aku tersenyum. Sepertinya berteman dengan Ron banyak menularkan energi positif, salah satunya adalah rajin tersenyum. "Haha baiklah. Kita teman kan? Bukankan sebagai seorang teman kita harus saling membantu?". Ron menatapku takjub, ia kembali memelukku sambil berteriak "Terimakasiiiihh.. Kau memang teman yang baik. Beruntung aku dapat mengenalmu lebih awal". Orang-orang disekitar kami kembali menatap dengan pandangan yang seolah-olah berkata "Jangan berisikkk..". Ron melepaskan pelukannya dan mengucapkan maaf ke orang-orang. Saat itu mataku kembali tertuju ke anak lelaki berambut hitam dan berkacamata bulat tadi. Pandangan kami saling bertemu. Tapi ia segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Tatapannya penuh kedamaian. Aku bisa merasakan itu. Tapi mengapa ia memalingkan wajahnya?
Saat aku melihat Ron, ia sudah tertidur pulas dengan selimut yang dibawanya. Aku membenarkan letak selimut itu. Aku kembali tersenyum ketika Ron mengigau dan berkata "Aku bangga menjadi siswa Hogwarts".
Kulihat rata-rata isi kereta sudah tertidur pulas berkelana dialam mimpinya. Aku pun memutuskan untuk tidur, karena perjalanan mungkin masih memerlukan waktu 4jam lamanya.


*

Aku membuka mataku dan melihat Ron tersenyum kepadaku. "Kau lucu ketika sedang tidur" ucapnya.
"Apakah perjalanan ke Hogwarts masih jauh?" tanyaku kepadanya. "Tidak, mungkin hanya sekitar 15 menit lagi. Kau mau ini?" ia menawarkanku cookies yang dimakannya. Aku mengambilnya satu. "Wooow Ron, ini enak sekaliii.. Dimana kau membelinya?". Ron tertawa "Aku tidak membeli, ini adalah buatan ibuku. Ibuku memang suka membuat kue seperti ini". Aku segera membuka tas ranselku dan mengambil rantang yang berisi cookies. Aku menawarkan kepada Ron "Cobalah ini.." Ron mengambilnya. Ekspresinya sangat aneh ketika ia mengunyah cookies yang aku berikan. "Demi sihir, kue mu enak sekaliii.. Apakah ini buatan ibumu?". Aku senang, "Ya, ini kue buatan ibuku. Sepertinya ibu kita memiliki hobi yang sama. Sama-sama senang membuat kue"
Saat sedang menceritakan tentang keluarga masing-masing, tiba-tiba kereta berhenti. Yaaa.. kami tiba di Hogwarts !! Sorak bahagia terdengar diseluruh penjuru kereta. Saat turun dari kereta, aku tak sengaja menabrak anak lelaki berambut hitam dan berkacamata bulat yang tadi aku lihat dikereta. Buku yang dibawanya berjatuhan. Aku segera menunduk untuk mengambil barang-barang yang jatuh itu. Aku menyerahkan buku-buku itu kepadanya. Dia menatapku, dia tersenyum. Senyumnya begitu manis. "Terimakasih.." ucapnya. "Oh tidak, ini salahku. Jadi memang seharusnya aku membantumu. Maaf ya, tadi aku terburu-buru sehingga tidak melihatmu yang sedang berada didepanku". Dia kembali tersenyum, "Sudahlah ini juga salahku. Aku juga sedang terburu-buru tadi". Aku terpaku, ku kira dia adalah tipe anak arogan yang pelit sekali dengan senyuman. Tapi aku salah, dia tak ada bedanya dengan Ron.
Dia melihat syal yang ku kenakan. "Itu namamu?" dia menunjuk sulaman nama. Persis seperti yang ditunjuk Ron. Aku mengangguk "Iya..". Dia kembali tersenyum, "Ehm.. kamu asrama apa?" entah kenapa aku tiba-tiba berharap agar aku bisa seasrama dengannya "Aku Gryffindor. Kamu?". "Woooww.. Kitaa.. Kita seasrama! Aku juga Gryffindor!". Oh tuhan, entah mengapa saat itu senyumku mengembang sangat lebar. Tiba-tiba Ron datang. "Hey..!" ia menepuk pundakku. "Wow, kau bersama Harry?". "Harry? Harry siapa?" aku bertanya kebingungan. Ron seperti menatap kebingugan ke arah anak laki-laki itu. Anak laki-laki tadi mengerti bahwa Ron sedang bingung. Ia angkat bicara "Hehe aku dan Ron saling mengenal. Namaku Harry. Harry Potter" dia mengulurkan tangannya padaku. Wah, keberuntungan berpihak padaku hari ini. Ini dia Harry Potter yang diceritakan ayah dan ibu. Aku segera menerima uluran tangannya "Kamu anak James & Lily Potter?". Harry itu mengangguk bahagia.

Saat tiba diasrama kami berpamitan ke kamar masing-masing. Ternyata Ron dan Harry satu kamar. Kamarku dan kamar mereka bersebelahan. Aku langsung berlari ke kamarku. Aku penasaran siapa teman sekamarku. Saat aku masuk kamar, ternyata kamar itu masih kosong. Mana teman sekamarku? Atau jangan-jangan aku yang salah masuk kamar?
"Took.. tookk.." ada yang mengetuk pintu. Lalu seorang anak perempuan masuk kekamarku. Wajahnya lucu, dia sangat cantik. Rambutnya pirang, sama dengan Ron. "Hey, kamu teman sekamarku?" tanyaku padanya. "Iya.. Wah senang bisa sekamar denganmu" ucapnya ramah "Siapa namamu?" ucapnya lagi. Aku segera menunjukkan syal sulaman ibuku. Sepertinya syal ini bisa beralih fungsi menjadi kartu identitas. Dia tersenyum, dia melepaskan syal-nya dan menunjukkan salah satu sudutnya. Disana tertulis Hermione Granger.
Aku tau itu adalah namanya. Dan ternyata itu juga hasil sulaman ibunya. Aku dapat dengan cepat mengakrabkan diri dengan Hermione. Awal yang indah. Aku mendapatkan 3 teman hari ini. Ron, Harry, dan Hermione.


Kami berkumpul di aula Hogwarts. Kami berempat (Aku, Hermione, Ron, dan Harry) duduk berhadap-hadapan. Kami memang sudah saling mengenal. Tapi Ron dan Harry belum mengenal Hermione. Aku mengenalkan Hermione pada mereka dan mereka terlihat sangat senang mendapatkan teman baru lagi. Kami bercanda dan sesekali tertawa. Tiba-tiba datang seorang wanita, perawakannya yang tinggi dan wajahnya yang sudah agak berkeriput tidak menghilangkan kharisma dirinya. Dia memperkenalkan diri sebagai seorang kepala asrama Gryffindor. Namanya Prof. McGonagall. Dia yang akan membimbing kami nantinya. Dan jika kami bermasalah maka kami akan dihadapkan dengannya.
Kemudian seorang lelaki dengan jenggot yang panjang memperkenalkan diri. Ternyata dia adalah kepala sekolah Hogwarts, namanya Prof. Albus Dumbledore. Perkenalan dengan para guru lainpun berlangsung dengan lancar.
Prof Dumbledore mengatakan bahwa untuk 3hari pertama kami dibebaskan dari kegiatan belajar-mengajar. Kami dipersilahkan untuk bebas mengenal lingkungan sekolah.
Pada jam istirahat aku melihat Harry duduk melamun di taman. Aku menghampirinya "Hai Harry" , dia tampak terkejut "Oh hey.. Sedang apa?". "Yang seharusnya bertanya seperti itu aku. Sedang apa kamu duduk melamun sendiri disini?". Ron dan Hermione datang. Harry tampaknya sangat gelisah. Ron dan Hermione pun dapat membaca kegelisahan Harry. Kami mendesak Harry untuk menceritakan kegelisahannya. Akhirnya.. "Aku mencemaskan keselamatan ayah dan ibuku.." ucapnya sedih. "Ada apa dengan mereka Harry?" tanya Hermione. Ron sepertinya sudah mengetahui sesuatu memilih untuk diam dan menatap prihatin ke arah Harry. Kemudian Harry menceritakan tentang penyihir jahat yang bernama Voldemort. Ia berusaha untuk membunuh Harry beserta keluarganya 10 tahun silam. Tapi untungnya ia masih terselamatkan dan kini ketika Voldemort mengetahui bahwa Harry bersekolah di Hogwarts, terror2 Voldemort terus berdatangan. Kami menenangkan Harry dan berjanji akan bersatu membantu Harry untuk melawan Voldemort. "Tidak usah, ini akan membahayakan kalian. Ini akan mengancam nyawa kalian. Lihat ini, ini adalah bekas luka yang ditinggalkan Voldemort 10 tahun yang lalu". Harry menunjukkan bekas luka yang ada dikeningnya.
"Harry, sudah berapa kali ku katakan bahwa kita sekarang adalah teman. Kita sahabat! Jadi apapun yang terjadi kita harus saling membantu. Sebesar apapun bahaya yang mengancam, sebesar apapun kekuatan Voldemort, bahkan sedahsyat apapun sihir yang nanti akan dia keluarkan, jika kita bersatu percayalah bahwa kita bisa mengalahkan dia!" ucapku berapi-api. Harry tersenyum, ia menitikkan air mata, menangis terharu. "Terimakasih.. terimakasih mau menjadi sahabatku yang selalu ada untuk membantuku". Aku tersenyum, Ron dan Hermione memeluk Harry. Akupun ikut memeluknya. Kami berempat saling berpelukan dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

*

Keesokan harinya kami berada di lapangan. Sebentar lagi akan diadakan seleksi bagi peserta Quidditch. Aku, Hermione dan Ron sudah duduk manis di antara kursi penonton dan akan menyaksikan Harry yang sebentar lagi akan diseleksi. Aku tak tau jenis olahraga macam apa ini. Tapi semenjak masuk kesini Harry sangat tergila-gila dengan Quidditch dan bercita-cita menjadi seeker. Harry bercerita bahwa dulu ayahnya adalah seorang seeker. Aku ingat ayah. Ayahku dan ayah Harry ternyata dulu satu sekolah dan satu angkatan. Mereka sama-sama diasrama Gryffindor. Dan hebatnya ayahku dulu juga adalah seorang seeker dipertandingan Quidditch, ya walaupun diposisikan hanya sebagai seeker cadangan, tapi ayahku dan ayah Harry adalah satu tim yang menjunjung tinggi kekompakan. Tidak heran jika disetiap pertandingan Quidditch tim Gryffindor selalu menang. Tapi ayahku berkata bahwa kehebatannya menjadi seorang seeker tak ada artinya dibandingkan dengan kehebatan ayahnya Harry.
Seleksi dimulai. Ternyata seleksi diadakan hampir persis dengan pertandingan Quidditch sungguhan. Para peserta diwajibkan untuk menangkap snitch. Tersedia 1 snitch. Orang pertama yang berhasil menangkap snitch berhak menjadi seeker di tim-nya. Sisanya akan diseleksi lagi oleh para panitia quidditch. Seleksi babak pertama dimulai dengan tim dari asrama Gryffindor. Sementara 3 asrama lainnya akan diseleksi setelah satu orang dari asrama Gryffindor berhasil menangkap snitch. Ya, aku berharap orang itu adalah Harry.

Harry meliuk-liuk indah diatas sapu terbang. Ku akui kemampuan terbang Harry sangatlah hebat. Walau baru pertama kali menggunakan sapu terbang, terlihat dengan jelas bahwa ia akan menjadi seorang penyihir yang hebat dengan kemampuan terbangnya yang tak kalah hebat.
Aku berteriak-teriak gemas ketika Harry hampir mendapatkan snitch tapi berhasil dihalau oleh tim lawan. Hampir 1jam setengah tapi seleksi belum berakhir. Aku menatap sekelilingku. Memandang langit yang saat itu sedang cerah sekali. "BERHASSSIIIIIIIILLL...!!" teriak Ron diiringin dengan tepukan tangan para penghuni asrama Gryffindor. Semua tersenyum lebar. Ketika aku melihat ke arah lapangan, ternyata Harry berhasil menangkap snitch. Impiannya tercapai, ia akan menjadi seeker di tim dari asrama Gryffindor.


Aku, Ron, dan Hermione berlari kearah Harry dan langsung memeluk Harry. "Selamat Harry, kamu hebat!" ucapku sambil menyeka keringat yang ada dikening Harry dengan saputangan. Harry tersenyum bahagia "Terimakasih, ini semua berkat dukungan semangat dari kalian. Without you i'm nothing". Kami kembali memeluk Harry. Sementara disudut lain telah terpilih 3 seeker dari 3 asrama lainnya. Terdengar lagi pengumuman bahwa para peserta yang gagal mendapatkan snitch akan diseleksi lagi keesokan harinya untuk menjadi Keeper, Beater, dan Chaser. Harry dikerubungi teman-teman dari asrama Gryffindor yang mengucapkan selamat bertubi-tubi. Kemudian Prof. McGonagall datang menghampiri kami. Ia mengucapkan selamat kepada Harry. Ketika kami kembali ke asrama, kami bertemu Fred & George. Aku telah mengenal mereka dari Ron. Ron bercerita bahwa Fred dan George adalah kakaknya. Tapi aku belum pernah bertemu mereka. Mereka mengucapkan selamat kepada Harry. Mereka terlihat ramah, murah senyum seperti Ron. Fred melirik jahil kearah Ron "Hey Ron, siapakah dua wanita itu?" Fred melihat ke arahku dan Hermione sambil tersenyum jahil. "Yang mana pacarmu dan yang mana pacar Harry?" ucap George. Aku dan Hermione tersipu malu. Sedangkan Ron dan Harry terlihat salah tingkah. "Oh tidak kak, mereka sahabat baru kami. Lagipula kami siswa baru disini, ini tahun pertama kami. Belum waktunya untuk memikirkan tentang cinta" kilah Harry disela-sela senyumannya. "Iya, benar. Kami masih berumur 11tahun. Terlalu dini untuk urusan seperti itu." sambung Ron sambil tertawa. Fred dan George tersenyum "Yasudah kalau begitu. Sekali lagi selamat ya Harry. Selamat berjuang di pertandingan Quidditch nanti". "Baiklah terimakasih kak..". "Iya, sama-sama. Duluan yaa.." pamit Fred dan George sambil berlalu. Kami pun melanjutkan perjalanan ke asrama, saling berangkulan dan tersenyum lebar sambil saling menyapa orang-orang yang kami lewati.
Ya.. Inilah tahun pertama kami bersekolah di Hogwarts. Awal yang indah, menimbulkan banyak kesan positif, teman baru, suasana baru, keceriaan baru, dan yang pasti timbulnya kebersamaan yang semakin hari semakin melekat antara aku, Harry, Ron, dan Hermione.


Seminggu kemudian diumumkan bahwa satu bulan lagi akan diadakan pertandingan Quidditch antar asrama. Kali ini Gryffindor akan melawan Slytherin. Tentunya anggota tim dari masing-masing asrama telah terpilih dan Harry beserta timnya semakin giat berlatih. Yeah, can't wait for that...

9 komentar:

  1. haha, jadi harry potter punya temen baru namanya dika arianti lestari X)

    nice imaginative story btw, salam kenal :)

    BalasHapus
  2. penggermar Harpot banget deh kamu.. setiap posting yang aku liat, pasti HARPOT. :) *semangat ya.. semangat buat nulis maksudnya. hehe..
    overall nice post!!! ^_^

    BalasHapus
  3. aaaaa lucunyaaaa, riil banget dika kamu nulisnya :D

    BalasHapus
  4. *Irviene: haha makasih kakak, salam kenal juga :D

    *Chilfia: iyaa, suka banget malah :D Makasih yaaa..

    *kak Ratri: makasih kaaak :D

    BalasHapus
  5. dika, sekedar intermezo ngaco: gimana jadinya kalo tiba2 voldemort bilang "jamaaah ooo jamaaah" #kabur aparette

    BalasHapus
  6. Hebat banget imajinasinya...lanjutkaaaannnnn ;p

    BalasHapus
  7. imajinasinya keren deh ^.^
    nice post
    salam kenal :)

    BalasHapus
  8. hahahah yang penting sampai sekarang gue belum nonton harry potter yang terakhir...NICE STORY :)

    BalasHapus

Gak Komen Gak Gaul ! :P