Jumat, 19 Agustus 2011

Harry Potter and Togetherness of Love (part 2)

Reaksi: 
 Yang belum baca part 1, klik disini biar lebih afdhol :p


Ini adalah hari ke7 aku berada di Hogwarts. Aku dapat dengan mudah beradaptasi disini dan mendapatkan banyak teman baru. Aku mengenal Neville Longbottom, Luna Lovegood, Cho Chang, dll

Saat ini sedang musim dingin. Hal ini jelas membuatku dan Hermione malas kemana-mana dan lebih memilih untuk duduk didalam kamar ditemani dengan segelas hot cappucino buatannya. Ku akui selain cantik, Hermione juga baik dan pintar. Ayah dan ibunya adalah seorang dokter gigi. Awalnya aku tak tau apa itu dokter gigi, tapi Hermione menjelaskan padaku bahwa dokter gigi adalah suatu pekerjaan mulia. Seorang dokter gigi bertugas memeriksa gigi yang sakit dan berusaha menyembuhkannya. Terkadang aku juga sering kasihan terhadap Hermione yang sering di-bully teman-teman hanya karena ia adalah keturunan Muggle. Banyak yang menyebutkan bahwa darah Hermione adalah darah kotor. Hermione selalu murung setelah menerima hinaan itu sementara aku, Harry, dan Ron berusaha untuk menghiburnya. Hermione juga bercerita bahwa ia sangat terkejut saat ia mendapat surat undangan untuk mendaftar di Hogwarts.
Saat kami sedang bercerita tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar. Ketika aku membukakan pintu ternyata itu adalah Harry dan Ron.

"Hey, sedang apa kalian? Tidakkah kalian kedinginan? Harry mengajakku untuk ke perapian. Kalian mau ikut?" Oh.. Ternyata Ron dan Harry mengajak kami untuk menghangatkan tubuh diperapian. Aku dan Hermione yang saat itu belum cukup hangat dengan hot cappucino buatan Hermione memutuskan untuk ikut dengan mereka. Suasana hening, kami tenggelam dalam diam. Mungkin sibuk dengan pikiran masing-masing.
Merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini membuatku memutuskan untuk membuka pembicaraan "Ehmm.. Harry, bagaimana dengan tim mu? Apakah sudah siap untuk pertandingan quidditch 2minggu yang akan datang?". Ron dan Hermione menggangguk, sepertinya mereka ingin menanyakan hal yang sama kepada Harry. Harry tersenyum, ya.. senyum itu... ntah mengapa aku selalu merasakan kedamaian saat melihat senyum itu mengembang dari sudut bibirnya "Ya, saat ini kami masih berlatih. Walaupun kedinginan saat dilapangan itu tak jadi masalah. Yang terpenting tim Gryffindor harus menjadi pemenang melawan Slytherin nanti". Sosok ini hampir persis dengan sosok ayahnya, sangat giat, pekerja keras dan pantang menyerah seperti yang dikatakan ayahku. "WAAAAA... TOLOOOOOOONGG!!" Kami dikejutkan dengan teriakan Ron. Lagi-lagi Ron menjerit dan bersembunyi dibelakangku. Ternyata ada seekor laba-laba yang merayap didinding sebelahnya. Hermione tertawa kencang, tapi ia langsung membuang laba-laba itu saat ku pelototi. Hal ini mengingatkanku dengan pertemuan pertama ku dengan Ron dikereta seminggu yang lalu. Aku tersenyum geli ketika Ron berkata "Kenapa laba-laba selalu menghantui kehidupanku?". Oh God, Ron, dia selalu bisa membuatku tertawa.
Ron melepaskan pelukannya, kami kembali berjalan menuju perapian.

"Bagaimana? Sudah hangat kan?" Tanya Ron kepadaku. "Apa masih merasa kedinginan? Oh tuhan, aku lupa membawa coklat hangat! Apa perlu aku kembali ke kamar mengambil coklat hangat untuk kita berempat?" kami tersenyum. Ternyata dibalik kepribadian Ron yang konyol ternyata dia juga menyimpan banyak misteri. Dia anak yang baik. "Sudahlah Ron, kami sudah merasa cukup hangat disini" ujar Hermione. Dan akhirnya, malam itu.. kami bercerita. Ya, kami menceritakan tentang kehidupan kami. Tentang keluh kesah kami.

*

"Bagaimana Harry? Apa kau sudah siap?" tanya Ron. Ya.. Akhirnya saat yang kami nantikan tiba. Pertandingan Quidditch!! Dan Harry akan berjuang membela tim Gryffindor.
"Siap! Doakan aku, semoga aku bisa memberikan yang terbaik untuk Gryffindor, untuk kalian, dan untuk kita semua" Harry tersenyum penuh keyakinan. Dari sorot matanya tampak jelas bahwa ia benar-benar siap dipertandingan ini. Ron memeluk Harry "Kamu bisa Harry!!". Aku menjabat tangannya dan ikut memeluknya "Ya, kamu bisa! Kalahkan Slytherin dan buat kami bangga! Tapi maafkan kami karena tak bisa mendampingimu Harry". Aku, Ron, dan Hermione kali ini tak bisa mendampingi Harry. Padahal ini adalah pertandingan perdananya. "Ini gara-gara orang gila itu! SIALAN!!" gerutu Ron. Orang gila ----yang disebut Ron tadi---- aku baru pertama kali melihatnya kemarin malam. Rambutnya putih, wajahnya tampan. Tapi sepertinya dia bukan anak yang baik. Aku tak pernah melihatnya di Gryffindor, dan menurut Hermione dia adalah penghuni asrama Slytherin. Ya, namanya Draco Malfoy. "INI TIDAK ADIL, INI SEMUA SALAH DIA! TAPI KENAPA KITA YANG DIHUKUM? KITA TAK DIIZINKAN MENYAKSIKAN QUIDDITCH SEMENTARA DIA TETAP DIPERBOLEHKAN UNTUK MENGIKUTI PERTANDINGAN MEMBELA TIM SLYTHERIN!" Hermione emosi. Ia berbicara dengan intonasi yang tinggi dan berapi-api. Ini semua gara-gara Draco menggantung Mrs. Norris, kucing lucu kesayangan Argus Filch. Saat kami (Aku, Ron, & Hermione) berusaha membebaskan Mrs. Norris, ia datang dan menuduh kami yang melakukannya. Sementara Draco memutarbalikkan cerita dan berkata bahwa kamilah yang menggantung Mrs. Norris dan ia yang ingin menyelamatkannya. Oh tuhan, itu sungguh kejam!! Dan akhirnya kami dipanggil oleh Prof. Dumbledore untuk di introgasi.
"Sudahlah, kebenaran pasti menang. Tak masalah jika kalian tak mendampingiku.. Yang pen...."
"Oh, jelas itu masalah Harry!!" ucapku gusar "Ini pertandingan pertamamu, kami ingin menyemangatimu!"
Harry tersenyum, ia mengacak rambutku lembut, "Perhatian, dukungan, dan doa kalian sudah cukup membuatku semangat. Walaupun kalian tak menyaksikan pertandingan secara langsung, tapi yakinlah aku akan berusaha jadi yang terbaik. Jadi pemenang!"
"Yaa.. Dan kau harus mengalahkan Slytherin! Tim ORANG GILA itu!!!" Hermione masih berapi-api. Sepertinya ia masih sangat emosi. Ron menengahi "Sudahlah, Harry sebaiknya kau bersiap-siap. Kami harus keruangan Prof. Dumbledore sebentar lagi. Semoga berhasil. Kami selalu mendoakanmu" ia memeluk Harry, dan kami melakukan hal yang sama. "SEMANGAT!!" kami berteriak saat Harry mulai bersiap-siap. Harry tersenyum penuh arti.

*

"Jadi kalian yakin bukan kalian yang melakukan ini semua?" Tanya Prof.Snape .  "Apakah kami memiliki tampang seorang penipu?" ucap Hermione. Ron menyikutnya. Sedari tadi aku hanya diam dan menyimak pembicaraan ini. Aku tak tau harus berbicara apa. Yang lebih banyak bersuara hanyalah Hermione. "Snape, mereka tak mungkin melakukan itu semua! Lihatlah wajah-wajah lugu mereka" kali ini Prof. McGonagall yang angkat bicara. "Oooo.. jelas kau lebih membela mereka karena kau adalah kepala asrama Gryffindor. Wajah lugu kata mu? Mereka tidak lugu! Mereka hanya berusaha agar terlihat lugu! Kasihan...". Aku tak tahan mendengar perkataan Prof. Snape, ini sudah keterlaluan "Ya, dan jelas kau lebih membela Draco karena kau adalah kepala asrama Slytherin. Tak ada satupun kepala asrama yang mau muridnya disalahkan!" aku memberanikan diri menata Prof. Snape. Dia membuang pandangannya, rahangnya mengeras, terlihat ia sangat marah. "Sudah, aku akan mendatangkan satu saksi" kali ini yang berkata adalah Prof. Dumbledore. Dia juga tak banyak bicara. "Masuklah nak.." ucapnya lembut. Saat itu masuklah seorang gadis "Luna!" teriak Hermione. Dia adalah salahsatu siswa dari asrama Ravenclaw. "Jelaskan apa yang kau lihat saat itu nak..". Luna terlihat tegang saat ia melihat Prof. Snape. Ia terdiam cukup lama. Ntah apa yang ditakutinya. Sungguh saat itu semua yang ada diruangan terlalu berbelit-belit. Jelas ini memakan waktu lama, sementara aku berharap ini hanya membutuhkan waktu kurang dari 10menit. Ya.. Aku tetap ingin menyaksikan pertandingan Quidditch. "Katakanlah Luna!" desak Ron. Sepertinya ia merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan. "Ehmm.." Luna berdeham. "Sebenarnya saat itu yang aku lihat adalah Draco menggantung Mrs. Norris, dan mereka bertiga berusaha membebaskannya, tp Draco menghalangi dan memantrai tali yang menggantung kaki Mrs. Norris" Semua terdiam, menunggu reaksi Prof. Dumbledore. "Ehm.." ia berdeham "Aku sudah memutuskan, bahwa anak-anakku ini..." ia menggantungkan kalimatnya. Ia menatap kami satu persatu, taptapan yang penuh dengan kedamaian. Yang menyiratkan bahwa ia adalah sosok yang berbudi luhur, sosok yang akan selalu melindungi dan mengayomi. Lalu ia menatap Prof. McGonagall & Prof.Snape dengan tatapan yang sulit diaritkan. Sepertinya ia sengaja mempermainkan kami yang saat itu sedang kalut "TIDAK BERSALAH!!" ucapnya lantang. "Snape, setelah pertandingan Quidditch panggil Draco untuk menghadap kepadaku" tambahnya lagi. Aku tak percaya. Hermione menjerit bahagia. Dan Ron tersenyum simpul. Hermione memeluk Ron. Sangat erat. Tapi entah mengapa ada sesuatu yang terasa aneh didadaku saat aku melihat Hermione memeluk Ron erat, seperti ada sedikit rasa sesak. Apakah aku.... Ah sudahlah!

*


"HARRY!!!" teriak ku saat Harry berlari kearah kami. Ia terseyum. "Bagaimana dengan Quidditch?" tanyaku lagi. Tiba-tiba senyumnya yang tadi sangat lebar kini sedikit demi sedikit memudar. Ia menundukkan kepalanya. "Apa yang terjadi?" aku deg-deg-an. Tak mau mendengar kata GAGAL yang keluar dari mulut Harry.
Ia menggelengkan kepalanya. Tampak Ron dan Hermione memasang wajah tegang, sama sepertiku. "Harry.. Apa yang terjadi?" desakku lagi. Tiba-tiba ia mengangkat wajahnya, tersenyum lebar dan memelukku "AKU BERHASIIIIILLL!!!" teriaknya. Oh tuhan, kami berempat saling berpelukan dan tersenyum bahagia. Tak lupa pula untuk mengucapkan selamat kepadanya. "Harry, kau membuatku takut.." ucapku saat ia masih memelukku. Ia tampak sangat bahagia. "Ini semua karena kau, karena kalian semua.. Tanpa kau mungkin aku takkan berhasil"
Aku melepaskan pelukan Harry "Aku ?"
Harry gelagapan, sepertinya salah tingkah "Oh.. ehm, maksudku.. kalian. Ya.. Kalian!"
Aku tersenyum, aku bisa memakluminya. Sepertinya ia hanya kelelahan setelah pertandingan quidditch.
"Ah, sayang kami tak bisa menyaksikan pertandingan itu, Harry" Ron penuh penyesalan
Lagi-lagi Harry tersenyum "Sudahlah, tak masalah. Bagaimana dengan masalah kalian?"
Ron antusias, "Kami terbukti tidak bersalah Harry!! Luna lah yang membantu kami memberikan kesaksian"
"Sudah ku bilang bahwa kebenaran pasti selalu menang!"

"Hey, selamat atas keberhasilan tim Gryffindor, Harry" seseorang datang menghampiri kami. Suaranya lembut, suara yang sangat familiar. Yang beberapa saat lalu membantu kami dihadapan Prof. Dumbledore.
"Terimakasih Luna.. Terimakasih.." Harry menjabat tangan Luna. "Terimakasih juga karena kau mau membantu sahabat-sahabatku ini"
Luna tertawa, entah mengapa "Sudah seharusnya aku membantu mereka. Mereka memang tak bersalah". Lalu ia pergi tanpa permisi. "Aneh.." kata Hermione saat Luna menghilang dari pandangan kami. "Ssssttt.. Dia telah membantu kita!" tegur Ron.

*

Harry banyak murung setelah pertandingan Quidditch. Harusnya ia merasa senang karena keberhasilannya. Tapi kali ini? Mengapa?
"Voldemort.." ucapnya saat kami tanya perihal tingkah anehnya itu
Voldemort? Mahluk berhidung aneh yang diceritakan Harry saat itu? Ada apa dengan dia?
"Aku selalu mendapatkan mimpi buruk tentangnya. Ini adalah tanda bahwa ia akan menyerang kita.."
Kami terkejut "APAAAA? Darimana kau mengetahuinya"
"Iya, dari Prof. Dumbledore" apakah ini akan menjadi awal perjuangan, awal petualangan, awal perjalanan kami setelah masuk Hogwarts?
Ron gelisah, "Tenang Harry, selama ada kami kau akan tetap baik-baik saja. Kita akan berjuang bersama!"
Speechless, Harry tak bisa banyak bicara. Ia hanya mengucapkan terimakasih karena kami selalu ada untuknya.
Seekor burung hantu berwarna putih datang dan berhenti dipundak Harry. Harry mengelus kepalanya lembut, sepertinya ia menyayangi burung hantu itu. "Dia Hedwig. Burung hantu pemberian Prof. Hagrid" Harry menjelaskan sebelum kami tanya, seolah dia mengerti apa yang sedang kami pikirkan. Aku menyentuh Hedwig, "Burung yang lucu..." gumamku. Ya, Hedwig sangat jinak. Ia sangat manja ketika bulunya yang lembut ku elus. Dia berperilaku bagaikan seekor kucing yang sedang bermanja-manja dengan majikannya. "Ya, setidaknya ia lebih lucu dibandingkan laba-laba" Ron berbicara dengan muka polosnya. Kami tertawa. "Astaga, maukah kau menemaniku? Ini penting!!" semua mata berpaling ke Hermione. Sedetik kemudian ia menarik tanganku. "Mau kemanaaaa?" Hermione menggenggam tanganku erat dan mengajak berlari. Entah kemana

*

Toilet perempuan? Hermione mengajak ku ke toilet ? Ada apa?
Aku menatap kesal ke Hermione. Bagaimana tidak? Ia menarikku dan mengajakku berlari hingga hampir terjatuh, ketika anak-anak yang lain menjerit (tanpa sebab) dan aku ingin menanyakan apa yang terjadi, Hermione tetap menarik tanganku. Sungguh menjengkelkan!
"Maafkan aku, aku sakit perut. Tunggu sebentar, dalam 5 menit aku kembali" ujar Hermione sambil memegang perutnya. Sakit perut? Aku terdiam, tetapi kemudian aku tertawa. Sangat kencang. Tertawa melihat tingkah Hermione. Ku kira ada suatu hal yang gawat hingga ia menarikku kemari, ternyata ia hanya sakit perut. Konyol..
Dari dalam bilik toilet terdengar suara Hermione "Kenapa kau tertawa?"
Ups, ternyata dia mendengar tawaku. "Haha.. lupakan. Aku hanya mentertawakan ting..." kalimat ku terhenti. Aku terkejut, panik, dan takut saat aku melihat sesosok yang tinggi dan besar, seperti raksasa.
"Hey! Kau belum melanjutkan kalimatmu!" suara Hermione kembali terdengar. "He.. Her.. Hermione.. Cep.. cepat kel..keluar.." aku terbata-bata. Lidahku terasa kelu. Keringatku menetes sedikit demi sedikit. "Ada apa denganmu?" oh tuhan, dia masih sempat bertanya. Tidakkah dia merasakan ada bahaya disini? Terdengar suara pintu toilet dibuka. "ASTAGA!! ITU TROLL!!" jerit Hermione. Dia menarik tanganku yang sedang berdiri terpaku. "Ayo kita lari!!" dia berteriak tepat ditelingaku. Tapi tubuh kami yang terlalu kecil tidak dapat melawan Troll. Dia menutupi jalan kami. Dia semakin mendekati kami. Posisi kami terdesak. Aku dan Hermione sekarang sedang berhimpit-himpitan di sudut toilet. Cepat atau lambat Troll itu akan menginjak kami. "Tenang.." bisik Hermione. Bagaimana aku bisa tenang? Sementara Troll semakin mendekat. Hermione yang tadinya berusaha tenang kini ikut panik, wajahnya memucat. Dan saat jarak Troll tepat berada dihadapan kami.. BRAAAKK!! Pintu di dobrak.
"Ron, Harry!!" ya! itu mereka. Mereka datang bersama Prof. McGonagall, Prof Quirrel, dan Prof. Dumbledore. Mereka datang untuk menyelamatkan kami. "Tenanglah, kami akan menyelamatkan kalian!" ujar Ron. Tak lama setelah itu, entah dengan mantra apa, Prof. Dumbledore berhasil membuat Troll terjatuh tak berdaya. Kami berlari dan menjauh. Aku menghampiri Ron dan.. Memeluknya! Ron membalas pelukanku.. "Terimakasih Ron.." Tangannya yang lembut menyentuh lembut rambutku. Aku merasakan sesuatu hal yang aneh saat memeluk Ron, sesuatu yang baru pertama kali kurasakan. Sangat damai dan membuatku merasa nyaman. "Sama-sama, anggap saja ini adalah balasan karena kau juga sering menyelamatkanku.." Aku melepaskan pelukanku (walaupun sebenarnya aku belum ingin melepaskannya) dan menatap Ron. Kami tertawa. "Terimakasih Ron, Harry, kalian telah datang tepat waktu" ucap Hermione dengan senyumnya yang mengembang. "Sama-sama Hermione.."
Para Professor berpamitan setelah menyampaikan kepada kami untuk lebih berhati-hati. "Darimana kalian tau ada Troll disini?" tanya Hermione. "Tadi aku melihat kalian berlari ke arah toilet wanita. Tak lama kemudian Prof Quirrell memberitahukan bahwa ada Troll yang dikurung dibawah tanah memasuki Hogwarts. Anak-anak yang lain diperintahkan untuk masuk kedalam kamar, berlindung. Tapi aku dan Harry melaporkan kepada Prof. McGonagall bahwa kalian sedang ada di toilet dan kami segera datang untuk menyelamatkan kalian". Harry!! Astaga aku lupa berterimakasih. "Harry, terimakas.. Loh, mana Harry?". Aku melihat Harry berjalan menjauh, "Sepertinya ia cemburu" Hermione menatapku. "Cemburu?" aku bingung. Cemburu untuk apa? "Tadi saat kau berlari menuju Ron dan Harry, aku melihat Harry tersenyum kearahmu. Sepertinya Harry berpikir kau akan memeluknya, tetapi ternyata kau memeluk Ron terlebih dahulu. Dan senyum ceria Harry tiba-tiba memudar" aku terpaku. "Bukankah sama saja? Memeluk Ron atau Harry terlebih dahulu bukan masalah".
"Iya, aku tau itu, tapi itu adalah masalah bagi Harry" jelas Hermione. Aku bingung. Tapi kemudian aku berlari untuk mengejar Harry.
"HARRY!! TUNGGU!!" Harry tetap tak mendengar, tubuhku yang lemas gara-gara shock setelah tragedi Troll tetap ku paksakan untuk berlari. Mengejar Harry. "Harry.. Tunggu!" aku menarik tangan Harry ketika jarak kami sudah dekat. "Apa?" ia menatapku. Aku salah tingkah.
"Ehmm.. Aku mau berterimakasih. Terimakasih telah menyelamatkan aku dan Hermione". Hermione dan Ron datang setelah berlari menyusulku. Napasnya terengah-engah. Harry terseyum, seolah menjawab ucapan terimakasih ku "Sama-sama" ujarnya. Kemudian ia berbalik dan berjalan menjauhi kami. Aku, Ron, dan Hermione saling bertatapan penuh tanya. Ada apa dengan dia?



Bersambung... :p

5 komentar:

  1. ceritane menambahkan karakter kamu di novel harpot ? :P wkwk bagus bagus LANJUTKAN :P
    sisca

    BalasHapus
  2. ceritanya inspiratif, nggak bisa bohong kalo kamu benar2 kreatif. 2 jempol untukmu :)

    BalasHapus
  3. kalau ada penerus jk rowling, kamulah orang itu :D
    semangat! trs berkarya :)

    BalasHapus
  4. gue selalu nunggu postingan lo yang berbau harry potter, nggak rugi gue selalu pantengin blog lo hehe

    BalasHapus

Gak Komen Gak Gaul ! :P