Selasa, 04 Oktober 2011

Ketika Kartun Merusak Moral

Reaksi: 
Hello eperibodeeeehh.. adakah di antara kalian semua yang merindukan tulisan ku ini? Jadi gini, kalian semua tau lah ya, semenjak jadi siswa SMA waktu untuk post blog itu jadi berkurang, gara-gara tugaslah, PRlah, bahkan sampe ulangan harian yang belakangan ini makin getol diadain sama guru. Apa coba maksudnya? Apa mereka ga pernah ngerasa beratnya jadi seorang murid. Guru A ngasih tugas, guru B ngasih tugas juga, guru C , D dan guru E janjiin ulangan harian. Mereka ga pernah mikir betapa capeknya otak kita, mereka ga pernah berpikir gimana rasanya dibebanin dengan tugas-tugas dan ulangan harian dalam waktu yang bersamaan. Badan capek, waktu istirahat berkurang, kemampuan otak yang seharusnya berpikir jernih beralih profesi jadi berpikir keruh (?) dan ini mengacu pada kemampuan merangkai kata. Yang tadinya disekolah udah niat ngeblog eh pas nyampe rumah jadi dilema pilih kasur atau laptop. Karena capek ya akhirnya lebih milih kasur untuk istirahat. Random abis! Dan puncaknya minggu kmrn, sekolah ngadain UTS selama seminggu. Asli capeknya kerasa bgt. Untung guru-gurunya pada baik ngasih kita libur seminggu habis UTS (ini karena kakak kelas study tour juga sih). Oke kenapa gue curhat?
 Selama libur gue bingung mau ngapain, bete, makanan gaada, mana gerah lagi

*tweet klise seorang jomblo*
Karena tingkat bete gue melewati batas normal akhirnya gue lari-lari ke kamar , meluk bantal dan nangis didalem bantal kayak di pilem-pilem , ambil remote TV yang tergeletak pasrah di meja laptop dan nyalain TV. Ya sodara-sodara! NYALAIN TIPI ! *sengaja diulang biar makin tegang*
Terus gue teriak-teriak manggil adek gue, minta dibeliin makanan untuk nyemil -_- (kakak yang tidak berperti kekakakan)
Tadinya dikira acara TV lagi bagus. Tapi mencet-mencet tombol hasilnya tetep sama. IKLAN!!
Gue bete lagi.

Akhirnya pilihan gue tertuju ke Disney Channel, tp acaranya ngebetein. Lagi ga ada kartun. Gue pindah Channel ke Cartun Network dan JENGJENGJENG .....
CN lagi nayangin kartun (dan setau gue CN emang selalu nayangin kartun-_-)
Waktu itu lagi nayangin film yang gue ga tau judulnya apa. Jadi di film itu tokoh A diserang sama musuhnya. Mereka perang! Ya.. MEREKA PERANG!!
Mereka saling serang, si A nonjok si B, terus si B bales nendang perut si A sampe si A jatuh tersungkur. Tapi sedetik kemudian si A bangkit dan mengambil kayu. Si A melempar kayu tersebut di kepala si B dan begitu seterusnya sampe ada pihak yang menang.
Kalian tau? Gue baru sadar kalo film itu mengandung unsur kekerasan.
Bagi kita, para remaja atau kalian yang telah dewasa, hal itu merupakan hal yang lumrah atau ga ada pengaruhnya sama sekali.
Tapi pernah kalian berpikir gimana dampak bagi mental anak-anak?

Walaupun gue suka banget kartun, tapi gue mulai ngerasa beberapa dampak negatif dari tayangan kartun.



1. KEKERASAN
Kalian tau ga sih anak-anak sering berantem sama temen-temennya main tonjok-tonjokan, pukul-pukulan ga perduli resiko yang ada, itu sebagian besar terpengaruh oleh kartun. Menurut yang gue baca di salah satu majalah, seorang psikiater ngomong gini "seorang anak yang polos dan tidak mengerti apa-apa mulai mengenal kekerasan ketika mereka menyaksikan sebuah tanyangan, baik itu berita televisi (yang berisi berita-berita tentang KDRT, tawuran, dll) , sinetron, bahkan KARTUN YANG MEMILIKI ADEGAN KEKERASAN."

 2. Imajinasi yang salah
 Anak-anak kecil yang sering nonton film kartun tentunya punya tokoh idola masing-masing. Seperti naruto, BEN10, Avatar, dll. Tentunya mereka adalah sosok kartun yang menjadi pahlawan dan memiliki musuh-musuh. Kesigapan mereka dalam menghadapi musuh, mengenali musuh, dan mencurigai orang-orang disekitar mereka dengan tepat juga memberi pengaruh bagi mental seorang anak. Seorang anak bisa dengan semena-mena menyerang orang-orang disekitar mereka dengan alasan "Jangan mendekat!! AKU TAU KAMU PASTI DEWA KEGELAPAN! MENJAUH ATAU KUBUNUH KAU!!" lalu si anak meronta-ronta memukul, menjambak, menendang orang yang dia curigai. Kalian tau? Gue sering jadi korban sepupu gue yang kebanyakan nonton film Naruto, BEN10, Avatar, dll. Waktu itu sepupu lagi main dirumah. Gue lagi adem ayem duduk diteras rumah, tiba-tiba sepupu dateng sambil lari-lari & teriak. Gue kira dia ketakutan karena sesuatu, ternyata.. "HEY KAMU!! KAMU PASTI MENYAMAR! KAMU PASTI AGEN BLABLABLA YANG INGIN MENGHANCURKAN KOTA! LEPAS TOPENGMU!" sambil jambak-jambak rambut gue. Gimana ga kesel coba? Mereka sedang berimajinasi. Ya, imajinasi memang bagus. Tapi mereka sedang berada didalam lingkaran "Imajinasi yang salah"
3. Meningkatnya sikap antisosial/perilaku agresif
Anak-anak yang sering nonton film action "berbentuk kartun" (karena setau gue jarang banget ada anak yang dibiarin nonton film action/film laga khusus untuk orang dewasa) jadi lebih agresif. Terbukti ketika anak itu hiper aktif. Beberapa anak emang ada yang hiperaktif dari sononye. Tapi mereka bisa aja jadi lebih ganas ketika mereka menyaksikan adegan-adegan kekerasan di film kartun. Seperti di uraian nomor 2, mereka bisa menyerang siapa saja disekitarnya. Berteriak seperti orang kalap, gerakannya lebih cepat, dan tak perduli siapa orang yang di serangnya.

 4. Malas Belajar
Efek yang satu ini buka cuma dialamin sama anak-anak. Tapi beberapa remaja penikmat kartun. Salah satunya gue. Walaupun dalam kondisi "BESOK ADA ULANGAN" selalu ngutamain nonton kartun daripada belajar. Mikirnya pasti gini "Ntar deh belajarnya, nunggu kartunnya abis". Dan herannya, nggak perduli berapa kali kartun episode yang itu ditayangin, nggak perduli kita udah ratusan kali nonton kartun episode itu, tetep aja nggak ada bosen-bosennya. Kalo gue sebagai remaja SMA aja gitu, apalagi anak-anak?
 5. Menganggap wajar yang tak wajar
Di kartun, khususnya film kartun yang bertema ninja-ninjaan (kayak ninja Hatori, dkk) pasti ada adegan dimana sang ninja manjat pohon terus lari dari pohon satu kepohon berikutnya, kemudian dalam sekejap mereka melompat dari atas pohon dan mendarat dengan mulus dibawah. Tanpa sadar beberapa anak menganggap aksi ini keren dan menirunya dirumah T^T


Peran orangtua juga dinilai sangat besar bagi moral anak-anak menyikapi maraknya film kartun yang mengandung unsur kekerasan didalamnya. Walaupun kekerasan itu nggak disampaikan secara blak-blakan, tapi hal itu terpampang jelas ketika ditampilkan dilayar kaca.
Mungkin seorang anak memang perlu ditemani ketika menyaksikan acara televisi, meskipun itu kartun sekalipun. Dan ketika adegan-adegan itu muncul, orangtua dapat menyikapi dengan memberikan petuah kepada sang anak agar tidak meniru adegan di TV, memberitahukan kepada mereka bahwa yang mereka saksikan sangat berbahaya. Meskipun pada kartun di televisi tokoh kartun idola mereka dapat kembali ke keadaan semula setelah dihajar habis-habisan, justru itu yang akan membuat mereka semakin penasaran. Mereka berpikir bahwa ketika mereka melakukan hal yang sama kepada teman sepermainan mereka, keadaan teman mereka akan membaik dan kembali seperti semula layaknya kartun yang mereka tonton.

Mungkin media pertelevisian & perfilm-an Indonesia harus lebih jeli dan peka terhadap masalah kecil seperti adegan kekerasan film kartun.
Kita sebagai orang yang lebih dewasa tentunya bisa lebih mengerti mana yang baik dan buruk.
Mungkin sebagian dari kalian berpikir "Ngapain capek-capek ngurusin kartun anak-anak? Penting? Apa untungnya?" dan menganggap bahwa adegan-adegan itu hanyalah sebagai bumbu yang menambah sedap film tersebut. Karena kurang peka itulah timbul banyak masalah mengenai moral anak Indonesia yang sedikitbanyak dipengaruhi oleh film-film kartun tersebut. 
Overall, kartun memang menghibur. Tapi ada baiknya apabila hiburan tersebut tidak dijadikan sebagai sumber untuk mempelajari tentang tindak kekerasan. Banyak kok kartun yang memiliki moral value yang baik dibalik dampak negatifnya. 
Kita ga pernah bisa untuk ngelarang seorang anak untuk nonton (apalagi ngelarang untung nonton acara kartun favouritenya). Karena makin dilarang anak itu makin penasaran. Dia makin memberanikan diri utk nonton acara yg kita larang itu.
Yg kita lakuin disini memang bukan melarang. Tapi lebih ke membimbing dan menasehati kalo film tersebut menayangkan adegan yg tidak sepatutnya ditiru.
Membimbingpun harus dengan lembut , bukan dengan kasar karena itu juga berdampak bagi si anak. Semakin kita keras melarang, maka dia semakin berontak.
Intinya, jangan ambil yang negatif, tapi ambil sisi positifnya. Karena dibalik segala sesuatu yang negatif, pasti ada sisi positifnya walaupun hanya sedikit
It just my opinion, maaf loh kalo ada salah-salah kata xP

12 komentar:

  1. Di luar negeri, anak bisa nonton film2 kayak gitu tanpa kemudian jadi senang kekerasan ataupun malas belajar. Kok bisa?

    Soalnya mereka dikasih pengertian sama orang tuanya. Bukan dilarang atau dihindari, tapi justru dihadapi.

    Moral di Indonesia rasanya terlalu gampang diganggu ya. Diusik dikit, langsung deh pemuka2 agama panik cuap2. Mentalnya lembek, gampang terprovokasi, kalo gini gimana caranya mau menghadapi era globalisasi?

    Kasih anak kita pengertian. Bukan dilarang, tapi dampingi mereka saat nonton. Hal2 yg "negatif" kadang justru bisa jadi guru terbaik untuk mengajar anak2 kita supaya jangan melangkah ke jalan yg salah.

    Memang bener kalo anak harus diproteksi, tapi sampe kapan kita mau bersikap tertutup terhadap yg namanya perkembangan iptek dan budaya? Ini jaman globalisasi woy. Ga lewat TV pun anak bisa dengan mudah mengakses film2 lewat internet atau DVD bajakan. Terus apa yg harus kita lakukan?

    Bukan melarang, bukan menghindari, bukan menjauhi, tapi KASIH ANAK KITA PENGERTIAN. Supaya mereka bisa memilah mana yg baik dan mana yg buruk. Karena di dalam kehidupan nyata, pengaruh buruk yg merusak tuh jauh lebih berbahaya dibandingkan sekedar film kartun.

    BalasHapus
  2. Dahsyat bener komen om keven O.O

    Gue sendiri pernah ngalamin di bully ponakan.Dia berkamuflase menjadi seekor singa, dan nyakar2 gue sampe lecet.Oh teganya~

    Waktu kecil gue addicted banget sama kartun, tapi begitu gue berbuat kekerasan, orang tua langsung sigap nasehatin kalo itu gak baik.Bikin luka seseorang itu dosa.Masuk neraka.Temennya setan.

    Dan baik-baik aja, gue akhirnya sadar sendiri tuh :))

    BalasHapus
  3. Keren kaka..
    kaka hebat yaa bisa mengembangkan koment orang-orang menjadi tulisan yg bagus..

    ga kaya saya-,- haha
    belajar banyak dari tulisan2 kaka :)

    BalasHapus
  4. postingannya mendidik *bagi jempol*
    btw, CN sama DisneyChannel itu lebih mending DC. Soalnya disono jarang ada unsur kekerasannya *sering ikut liat*
    dan yaa, gara2 ada kartun, trus langganan gituan, adek gue hampir 24jam nonstop nonton tv-_- tidur malem, bangun siang, pulang sekolah lgsg nnt kartun, udah gitu, GABOLEH GANTI CANNEL ! ASTOJIIM

    *lepmar tabung gas*
    btw, nice post :*

    BalasHapus
  5. saya suka postingan ini, +1 qaqa

    BalasHapus
  6. wah kritis banget lo dek, saluuuuttt! nah gini dong, gue suka postingan abege yang kritis begini :D

    semua jawaban yang mau gue omongin udah diambil sama om keven =..=

    nu penting mah, nanti kalo kita udah jadi emak2 or bapak2, jangan lupa selalu mendampingi anak ketika sedang berhadapan dengan media massa (TV, internet, buku, majalah, dll). lalu kita beri mereka pencerahan tentang apa yg harus dan tidak dilakukan dengan apa yang dilihat oleh mereka di media massa itu ----> berat men kata2nya

    goodpost! 4 jempol :D

    BalasHapus
  7. setuju ma om keni. mereka juga dapat pengawasan ketat dari ortu. yang penting tu pengawasan ortu. toh aku yg dari dulu nonton kayak gituan gak pernah berbuat negatif :P

    BalasHapus
  8. bahkan untuk kartun simpel kyak Shinchan, Doraemon dll *lupa lagi judulnya* juga tdk skdit menimbulkan dampak negatif buat c anak...pinter2 klo udh jd org tua^___^ jgn asal dilarang azza tp ksi tw baik2 dgn penuh cinta #halah,,jd c anak jg gak bkal salah paham^^

    BalasHapus
  9. Beeuuuuhhh komenannya udah di sodorin sama om keven semua :D hahahai bravooooo ... kwkwkw

    BalasHapus
  10. Kak Keven: Iya, tapi kalo kita mudah kebawa arus globalisasi yang lebih banyak mengandung budaya asing sama aja dengan kita membunuh budaya indonesia. memang skrg teknologi makin canggih. ga bisa dipungkiri, kita juga ga bisa menghambat majunya perkembangan jaman yang makin pesat. Produk-produk teknologi makin canggih. Nah justru karena itu, karena tekologi makin canggih anak2 harus kita kasih pengertian dan diawasi. Mereka memang bisa aja mengakses melalui media internet atau DVD bajakan yang kayak kak keven bilang tadi. Tentunya anak-anak jaman sekarang adalah penerus generasi Indonesia. Tapi kita juga nggak mau kan anak Indonesia hancur karena pengaruh globalisasi dan berkurangnya pengawasan? Semaju apapun perkembangan jaman kita juga harus mempertahankan norma dan adat istiadat Indonesia. Sebisa mungkin kita mencegah agar anak-anak sekarang nggak terpengaruh dengan unsur-unsur negatif yang ada dikartun. Memang bukan melarang, tapi mengawasi, memperingati, dan memberikan bimbingan. Sekali lagi, it just my opinion ;)

    BalasHapus
  11. Riska, Rene, Ijal: Makasih semuaaa :3 *kisshug*

    kapina: iya kak, walaupun media massa bermanfaat, tapi nggak jarang mereka juga beracun . Anyway, makasih kak :3

    CaYa: Iya shincan, doraemon dkk jg ada dampak negatif. Kayak shincan yang seenaknya ngasih pantat keorang tua.

    Bang Dian : Makasih bang :3

    BalasHapus
  12. wooow, keren abis postingannya ! hebat ya bisa punya pemikiran kayak gini.

    btw kartun itu nggak semua buat anak kecil. Rata-rata kartun sekarang buat remaja atau dgn bimbingan orang tua, kayak naruto, one piece shincan gitu. Tapi gara-gara anak anak suka dengan animasi dan orang tua cuma nyepelekan "ah, cuma kartun aja lo" jadinya begini deh generasi bangsa kita. . .

    BalasHapus

Gak Komen Gak Gaul ! :P