Minggu, 19 Februari 2012

Wangi Dilam di Batas Senja

Reaksi: 
Petang. Hari menjelang petang. Burung dara yang bertengger diatas gedung-gedung mulai mengepakkan sayapnya. Awan-awan berarak mesra seolah mengiringi burung-burung itu.

Batinku menjerit. Aku iri!! Aku iri melihat awan yang selalu beriringan. Kapan aku bisa merasakan hal yang sama seperti awan-awan itu?

Brak!! Aku menabrak laki-laki bertubuh tinggi yang sedang berjalan pelan dihadapanku. Aku menunduk, membantunya membereskan buku-buku yang sukses kubuat jatuh dari tangannya. Beberapa bagian sampul itu jadi memutih karena tertutup sedikit salju

"Ma..Maaf.." ucapku terbata-bata seraya menyerahkan buku-buku itu kembali kepadanya.

Ia tersenyum. Sangat indah. Senyumnya bagaikan kuncup bunga sakura di musim semi. Sungguh menawan.

"Tidak. Ini salahku. Aku berjalan terlalu pelan sembari memperhatikan awan diatas sana. Mungkin aku menghadang jalanmu. Harusnya aku yang meminta maaf." Ia mengulurkan tangannya, "Divon"

Senyumnya kembali membuatku terpaku.
"Grace" aku menjabat uluran tangannya. Dingin. Sedingin lapisan tebal salju yang menyelimuti jalanan disekitar kami.

Ia kembali tersenyum, sebuah senyuman tulus. "Namamu indah". Mau tak mau aku tersipu mendengarkannya.

"Hmm.. Divon, kau bilang bahwa tadi kau sedang memperhatikan awan. Apa yang membuatmu tertarik untuk memperhatikan mereka?"

"Aku iri melihat mereka yang selalu berjalan beriringan. Sangat indah. Suatu saat aku ingin menjadi seperti awan. Berjalan beriringan dengan orang yang ku sayangi"

Aku tertengun. Dadaku berfluktuasi. Di dimensi manakah aku sedang berada? Apakah ini hanya sebatas mimpi di dalam mimpi?
Mungkinkah aku benar-benar mengalami hal ini? Bertemu seorang pria tampan yang merasakan hal serupa dengan apa yang kupikirkan beberapa saat lalu.

Aku terlonjak ketika ia menyentuh bahuku. "Ada apa?" tanyanya lembut. Suaranya mampu mendamaikan gejolak hatiku.
Ia menatapku. Tatapannya begitu tajam walau matanya dihalangi kacamata berminus. Cahaya matanya seakan menembus masuk kedalam irisku, membiaskannya hingga kedalam hati.

Aku berpaling, "Tidak apa-apa. Hanya saja, aku merasa sebentar lagi senja ini akan berganti malam. Udara terasa semakin dingin"

"Oh betul Grace. Mari kita pulang. Dimana rumahmu?"
Bodoh!! Apa yang tadi kuucapkan? Sedikit rasa kecewa terbesit dalam benakku. Sesungguhnya aku ingin lebih lama bersama dirinya. "St. Florida" aku tersenyum berusaha menyembunyikan kekacauan perasaanku.

Senyumnya merekah lebar. Memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Kita searah! Aku juga tinggal di St. Florida!! Mari aku antar" Aku kembali tertengun. Apakah ini hanya kebetulan belaka?

"Hei Grace! Ayo..." Lambaian tangan dan senyuman Divon menyadarkanku dari lamunan singkatku. Ia telah berjalan mendahuluiku. Aku mengejarnya. Semerbak wangi dilam menyergap hidungku kala aku berhasil mengimbangi langkah kakinya.
Hmm.. Wangi dilam di batas senja. Aku tersenyum.

Pria tampan berkacamata dengan senyum mempesona disebelahku ini memandangku. Ia juga tersenyum. Entah apa yang membuatnya ikut tersenyum. Sedetik kemudian ia mulai bercerita panjang lebar mengenai filosofi awan.
Aku mendengarkannya dengan saksama sembari menatap awan yang seolah tersenyum manis kepadaku.
Cahayanya yang kuning kemerahan dikala senja menambah keindahannya.

Oh tuhan, Apakah yang aku rasakan saat ini sama halnya seperti apa yang selalu awan-awan itu rasakan?


26 komentar:

  1. eciieee ka dikaaaa

    kata-kata nya penuh dengan kata-kata yang keren :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya dong riska. seperti diriku yang selalu keren xD #plak

      Hapus
  2. tentang awan, awan adalah harapan dan cita-cita yang perlu kita gapai <-- eh apa ini

    eh btw dika, itu divon hanip yaa? huahahahaha

    kalau tentang awan aku lebih nggeh bicara tentang ekspektasi, entah apa citna mungkin huahaha <-- pasti ga mudeng

    eh itu ralat "Ntah" <-- kenapa ga diubah ke "Entah" kan itu salah menurut EYD <-- guru bahasa engdongnesyah #PLAK

    BalasHapus
    Balasan
    1. ngaaha iya daka. dirimu benar. awan bagaikan cita2 yg perlu di gapai. tp kalo cita2nya awan agak ngeri juga. soalnya... kadang awan suka mendung trs turun ujan. kamu taulah lanjutannya ~ #plak

      ha? hanip? darimana? gara2 tokoh Divon itu pake kacamata. tidak daka!! tidaaaakk!! pada dasarnya daku memang menyukai pria berkacamata :p

      iya. aku ga mudeng emang yg itu . muahaha -_-

      sudah daka. sudah diperbaiki! terimakasih ralatnya xD

      Hapus
  3. aku suka cerpen kamu!! kalo bacanya sambil dihayati rasanya sweet banget :')

    BalasHapus
  4. Bagus dika, diksi yang kamu gunakan juga cukup bervariasi, jadi ya gak bikin bosan dibaca sampe habis ^_^ Plotnya juga sistematis ^_^

    Aku ngakak baca komen bang daka, divon itu hanif yah? eaaaak ngaku aja huahuahua =))

    Cuma mungkin biar keliatan lebih rapi, coba kamu buat setiap paragraf itu rata kira dan rata kanan :) Ngerti kan? di justify gitu dika ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. aaaaaakk terimakasih abaaaaang!! :*
      syukurlah kalo gitu. dikirain cerpennya berantakan banget :p

      bukan bang!! bukaaaaann!! ini tak ada hubungannya sama dirinya xD

      oke bang. aku ngerti. untuk kedepannya nanti aku coba :D

      Hapus
    2. Sip! :) di edit aja, tinggal di justify kok :p

      Hapus
    3. okelah bang. nanti daku edit. tp bukan malam ini. melainkan esok hari setelah pulang sekolah. yaya ban? xP wkwk

      Hapus
  5. kayaknya aku tau deh si divon itu siapa :D hahaha *Upsss
    btw on the subway, secara keseluruhan aku suka ceritanya dikaaa, cihuuui .. membaca ini seperti sedang memeluk bulan berdua bersama orang yang kita sayangi :p
    *eyaaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. siapa emangnya bang? siapaaahh ? xP

      aaakk makasih abang :*
      ciee aku tau. pasti dirimu teringat seseorang diluarsana ~ *uhuk*

      Hapus
  6. ah dika, aku tau maksud dari postingan ini apa #sotoy
    semangat ya dika walaupun kamu jomblo sekarat tp kamu pasti bisa!!! \(^_^)/
    #apaan haha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. emang apa coba maksud postingnya ? :p

      heh! jangan membawa ke-jomblo-an ku didalam sini. ini hanya mencemarkan keindahan cerpenku :p

      Hapus
    2. maksudnya itu.. kamu.. kamu.. kamu JOMBLO
      wkwkw

      kasian ya yg jomblo, contoh aku dong :p

      Hapus
    3. ogah. ngapain ngikutin org yg level jomlonya lebih parah dari daku? :3 wkwk xP

      Hapus
  7. Dik, jujur gua ngga ngerti ini ceritanya, ahahaha. Tapi senyuman dia pasti semanis senyuman gua :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. astaga ijaaaaall xP *tabok*
      ngahaha iya jal. senyummu manis kok. buktinya aku selalu merindukan senyummu :p

      Hapus
  8. Aiiih awan yang beriringan ngga kuaaat...

    cerita nya bagus..

    BalasHapus
  9. eyaaaaaaaaaa divon hanif abdulah,kakak tau nama kepanjangannya,btw kece dik ceritanyaaa,hebat kamu ternyata yaaaaaaaaaaak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukaaan tante ayi perry !! -_- aduh kenapa pada nyangka itu hanip ? :o kontroversional sekali posting saya ini xP

      aaaaaaaahh makasih kak ayiii . aku terharu loh :">
      belum hebat ini kak, masih tahap belajar :3 CMIWW

      Hapus
  10. Aku suka kata - kata cerpennya :3 kece banget :3

    BalasHapus
  11. Maaf baru baca. T.T

    Paragraf pertamanya. Wow. Nyastra banget. 0_0

    Selebihnya, cerpen ini mudah diikuti. Dan kalimat terakhir di endingnya itu lho.. co cwit banget. Aku suka!

    Aku suka narasi-narasi yang kamu tulis, Dika. Tajam. Dan kpmbinasi kata yang kamu pakai itu nggak main-main. Tapi, menurutku, kamu harus belajar bikin dialog yang lebih natural. :p

    :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. eleee... iya gpp bang alpi.
      makasih yaaa :D

      hehe iya bang. baru belajar bikin cerpen ginian, jadinya belom pinter2 amat =,= ntar kedepannya doain aja semoga bisa lbh baik :3

      oke bang! makasih pujian, kritik, dan sarannya :D ahaaaii xD

      Hapus

Gak Komen Gak Gaul ! :P