Batinku menjerit. Aku iri!! Aku iri melihat awan yang selalu beriringan. Kapan aku bisa merasakan hal yang sama seperti awan-awan itu?
Brak!! Aku menabrak laki-laki bertubuh tinggi yang sedang berjalan pelan dihadapanku. Aku menunduk, membantunya membereskan buku-buku yang sukses kubuat jatuh dari tangannya. Beberapa bagian sampul itu jadi memutih karena tertutup sedikit salju
"Ma..Maaf.." ucapku terbata-bata seraya menyerahkan buku-buku itu kembali kepadanya.
Ia tersenyum. Sangat indah. Senyumnya bagaikan kuncup bunga sakura di musim semi. Sungguh menawan.
"Tidak. Ini salahku. Aku berjalan terlalu pelan sembari memperhatikan awan diatas sana. Mungkin aku menghadang jalanmu. Harusnya aku yang meminta maaf." Ia mengulurkan tangannya, "Divon"
Senyumnya kembali membuatku terpaku.
"Grace" aku menjabat uluran tangannya. Dingin. Sedingin lapisan tebal salju yang menyelimuti jalanan disekitar kami.
Ia kembali tersenyum, sebuah senyuman tulus. "Namamu indah". Mau tak mau aku tersipu mendengarkannya.
"Hmm.. Divon, kau bilang bahwa tadi kau sedang memperhatikan awan. Apa yang membuatmu tertarik untuk memperhatikan mereka?"
"Aku iri melihat mereka yang selalu berjalan beriringan. Sangat indah. Suatu saat aku ingin menjadi seperti awan. Berjalan beriringan dengan orang yang ku sayangi"
Aku tertengun. Dadaku berfluktuasi. Di dimensi manakah aku sedang berada? Apakah ini hanya sebatas mimpi di dalam mimpi?
Mungkinkah aku benar-benar mengalami hal ini? Bertemu seorang pria tampan yang merasakan hal serupa dengan apa yang kupikirkan beberapa saat lalu.
Aku terlonjak ketika ia menyentuh bahuku. "Ada apa?" tanyanya lembut. Suaranya mampu mendamaikan gejolak hatiku.
Ia menatapku. Tatapannya begitu tajam walau matanya dihalangi kacamata berminus. Cahaya matanya seakan menembus masuk kedalam irisku, membiaskannya hingga kedalam hati.
Aku berpaling, "Tidak apa-apa. Hanya saja, aku merasa sebentar lagi senja ini akan berganti malam. Udara terasa semakin dingin"
"Oh betul Grace. Mari kita pulang. Dimana rumahmu?"
Bodoh!! Apa yang tadi kuucapkan? Sedikit rasa kecewa terbesit dalam benakku. Sesungguhnya aku ingin lebih lama bersama dirinya. "St. Florida" aku tersenyum berusaha menyembunyikan kekacauan perasaanku.
Senyumnya merekah lebar. Memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Kita searah! Aku juga tinggal di St. Florida!! Mari aku antar" Aku kembali tertengun. Apakah ini hanya kebetulan belaka?
"Hei Grace! Ayo..." Lambaian tangan dan senyuman Divon menyadarkanku dari lamunan singkatku. Ia telah berjalan mendahuluiku. Aku mengejarnya. Semerbak wangi dilam menyergap hidungku kala aku berhasil mengimbangi langkah kakinya.
Hmm.. Wangi dilam di batas senja. Aku tersenyum.
Pria tampan berkacamata dengan senyum mempesona disebelahku ini memandangku. Ia juga tersenyum. Entah apa yang membuatnya ikut tersenyum. Sedetik kemudian ia mulai bercerita panjang lebar mengenai filosofi awan.
Aku mendengarkannya dengan saksama sembari menatap awan yang seolah tersenyum manis kepadaku.
Cahayanya yang kuning kemerahan dikala senja menambah keindahannya.
Oh tuhan, Apakah yang aku rasakan saat ini sama halnya seperti apa yang selalu awan-awan itu rasakan?
eciieee ka dikaaaa
BalasHapuskata-kata nya penuh dengan kata-kata yang keren :3
iya dong riska. seperti diriku yang selalu keren xD #plak
Hapustentang awan, awan adalah harapan dan cita-cita yang perlu kita gapai <-- eh apa ini
BalasHapuseh btw dika, itu divon hanip yaa? huahahahaha
kalau tentang awan aku lebih nggeh bicara tentang ekspektasi, entah apa citna mungkin huahaha <-- pasti ga mudeng
eh itu ralat "Ntah" <-- kenapa ga diubah ke "Entah" kan itu salah menurut EYD <-- guru bahasa engdongnesyah #PLAK
ngaaha iya daka. dirimu benar. awan bagaikan cita2 yg perlu di gapai. tp kalo cita2nya awan agak ngeri juga. soalnya... kadang awan suka mendung trs turun ujan. kamu taulah lanjutannya ~ #plak
Hapusha? hanip? darimana? gara2 tokoh Divon itu pake kacamata. tidak daka!! tidaaaakk!! pada dasarnya daku memang menyukai pria berkacamata :p
iya. aku ga mudeng emang yg itu . muahaha -_-
sudah daka. sudah diperbaiki! terimakasih ralatnya xD
aku suka cerpen kamu!! kalo bacanya sambil dihayati rasanya sweet banget :')
BalasHapuseaaakk mamaksih kaka :3
HapusBagus dika, diksi yang kamu gunakan juga cukup bervariasi, jadi ya gak bikin bosan dibaca sampe habis ^_^ Plotnya juga sistematis ^_^
BalasHapusAku ngakak baca komen bang daka, divon itu hanif yah? eaaaak ngaku aja huahuahua =))
Cuma mungkin biar keliatan lebih rapi, coba kamu buat setiap paragraf itu rata kira dan rata kanan :) Ngerti kan? di justify gitu dika ^_^
aaaaaakk terimakasih abaaaaang!! :*
Hapussyukurlah kalo gitu. dikirain cerpennya berantakan banget :p
bukan bang!! bukaaaaann!! ini tak ada hubungannya sama dirinya xD
oke bang. aku ngerti. untuk kedepannya nanti aku coba :D
Sip! :) di edit aja, tinggal di justify kok :p
Hapusokelah bang. nanti daku edit. tp bukan malam ini. melainkan esok hari setelah pulang sekolah. yaya ban? xP wkwk
Hapuskayaknya aku tau deh si divon itu siapa :D hahaha *Upsss
BalasHapusbtw on the subway, secara keseluruhan aku suka ceritanya dikaaa, cihuuui .. membaca ini seperti sedang memeluk bulan berdua bersama orang yang kita sayangi :p
*eyaaaaa
siapa emangnya bang? siapaaahh ? xP
Hapusaaakk makasih abang :*
ciee aku tau. pasti dirimu teringat seseorang diluarsana ~ *uhuk*
ah dika, aku tau maksud dari postingan ini apa #sotoy
BalasHapussemangat ya dika walaupun kamu jomblo sekarat tp kamu pasti bisa!!! \(^_^)/
#apaan haha :D
emang apa coba maksud postingnya ? :p
Hapusheh! jangan membawa ke-jomblo-an ku didalam sini. ini hanya mencemarkan keindahan cerpenku :p
maksudnya itu.. kamu.. kamu.. kamu JOMBLO
Hapuswkwkw
kasian ya yg jomblo, contoh aku dong :p
ogah. ngapain ngikutin org yg level jomlonya lebih parah dari daku? :3 wkwk xP
HapusDik, jujur gua ngga ngerti ini ceritanya, ahahaha. Tapi senyuman dia pasti semanis senyuman gua :p
BalasHapusastaga ijaaaaall xP *tabok*
Hapusngahaha iya jal. senyummu manis kok. buktinya aku selalu merindukan senyummu :p
Aiiih awan yang beriringan ngga kuaaat...
BalasHapuscerita nya bagus..
ngehehhee makasih bang ujay xD
Hapuseyaaaaaaaaaa divon hanif abdulah,kakak tau nama kepanjangannya,btw kece dik ceritanyaaa,hebat kamu ternyata yaaaaaaaaaaak :D
BalasHapusbukaaan tante ayi perry !! -_- aduh kenapa pada nyangka itu hanip ? :o kontroversional sekali posting saya ini xP
Hapusaaaaaaaahh makasih kak ayiii . aku terharu loh :">
belum hebat ini kak, masih tahap belajar :3 CMIWW
Aku suka kata - kata cerpennya :3 kece banget :3
BalasHapusyuhuuu ~ makasih twilight :D
HapusMaaf baru baca. T.T
BalasHapusParagraf pertamanya. Wow. Nyastra banget. 0_0
Selebihnya, cerpen ini mudah diikuti. Dan kalimat terakhir di endingnya itu lho.. co cwit banget. Aku suka!
Aku suka narasi-narasi yang kamu tulis, Dika. Tajam. Dan kpmbinasi kata yang kamu pakai itu nggak main-main. Tapi, menurutku, kamu harus belajar bikin dialog yang lebih natural. :p
:D
eleee... iya gpp bang alpi.
Hapusmakasih yaaa :D
hehe iya bang. baru belajar bikin cerpen ginian, jadinya belom pinter2 amat =,= ntar kedepannya doain aja semoga bisa lbh baik :3
oke bang! makasih pujian, kritik, dan sarannya :D ahaaaii xD