Disinilah aku berdiri.. Menatap banyak siswa baru yang hilir mudik kesana-kemari. Mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang sedang asik berbicara dengan orang tuanya, ada yang sedang merapikan seragam kebanggaan sekolah baruku, ada yang sedang sibuk berkenalan mencari teman baru agar tidak sendirian diasrama nanti. Tapi aku? Aku hanya berdiri, berdiri disamping kereta kokoh yang akan membawaku menuju sekolah baruku. Ya, disinilah aku. Aku sedang menginjakkan kaki di stasiun King's Cross. Aku sedang menunggu kedatangan kereta Hogwarts Ekpress.
Aku sibuk dengan pikiran ku sendiri. Saat ini usiaku telah menginjak 11 tahun dan aku sangat beruntung ketika memiliki kesempatan sekolah di Hogwarts. Sekolah yang diimpi-impikan banyak orang. Ayahku adalah seorang penyihir berdarah murni, sedangkan ibuku adalah seorang Muggle. Yah, bisa dibilang aku ini adalah titisan penyihir berdarah campuran. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara ayah dan ibuku "Sayang, ayo siap-siap. Itu keretanya sudah datang". Woooowww... Aku takjub. Itukah kereta yang akan membawaku ke sekolah sihir ternama itu? Aku segera menggendong tas ranselku dan segera menyalami kedua orangtua ku. Tak lupa aku memeluk mereka dan memberikan kecupan dikedua pipi-nya. Memang sangat berat untuk anak seusiaku (dan tentunya anak-anak lain yang baru masuk Hogwarts) untuk tinggal jauh dari orang tua selama 1tahun. Mungkin para orangtua pun merasakan hal yang sama. Cemas dengan anak-anaknya. Yah, itulah resiko yang harus berani kami ambil. Sebelum masuk kereta, ayah menggendongku dan berkata "Baik-baik disana ya, ayah memiliki seorang teman dekat dan anaknya juga bersekolah disana". Akupun bersemangat "Waaahh.. siapa nama teman ayah itu?". Ibu tertawa melihat semangatku, "nama teman ayahmu James Potter sayang. Ibu juga berteman baik dengan istri-nya, Lily Potter." Senyumku semakin mengembang "Lalu siapa nama anaknya?". Ayah menurunkan aku dari gendongannya seraya tersenyum "Nama anaknya Harry Potter, sayang". Oh, ternyata anaknya seorang laki-laki. Aku penasaran ingin bertemu dengan sosok yang bernama Harry Potter itu. Belum sempat aku melanjutkan pertanyaan, kereta tiba dihadapanku dan anak-anak calon siswa baru berebutan naik. Ayah dan Ibu segera mengantarkanku untuk naik kedalam gerbong kereta. Aku kembali memeluk mereka. Ibu berkata "Jangan nakal ya sayang" sambil tersenyum manis dan mengecup pipiku. Aku melambaikan tangan ke mereka dan segera naik ke kereta.